"Aku adalah Pena, yang hanya berfungsi ketika ku berkarya"

Sabtu, 17 Desember 2011

Pesan Sang Penyulam Malam II

Lagu-lagu cinta itu membuatku gusar. Kebohongan-kebohongan nampak indah kudengar. Namun tetap tak pernah mengubah sesuatu yg muram, menjadi lebih indah. Kamu tau itu. Aku hanyalah pelipur yg tak pernah akan menjadi harapan.

Adalah sebuah kelelahan. Kelelahan ku bersabar mengartikan sebuah ayat yang kau berikan. Entah itu palsu, atau mungkin titik ketepatanku lemah menafsirkannya. Tapi aku lelah, dan kau enggan memberiku segelas air ditengah kelelahanku.

Adalah sebuah pengorbanan. Pengorbananku untuk selalu tersenyum seraya mengelus dada, dan menafikan endusan-endusan kemunafikan yang berjalan tepat ditengahnya. Tak lagi nampak produktif untuk ku perjuangkan pengorbanan. Tak ada ucap maaf, setidaknya kata angkuh selamat. Dan pengorabanan ini suci, jernih dan bersih. Mengapa kau kotori, dan ku lelah membersihkan kesucian, kejernihan, dan kebersihan ini, yang lagi-lagi hendak kau kotori. Dan baiknya kini ku korbankan pengorbananku.

Dan sadarkah jika ini bukan kutukan, biarkan ku berevolusi dan berjalan pergi. Meski tak ku pungkiri, disela perjalanan tak kuasa ku sejenak menoleh ke arahmu. Karena ranai telah membekas. karena ranai tak berbatas.

Bandung, 05 Desember 11.

Ditulis saat bangun tidur.

0 komentar:

Posting Komentar