"Aku adalah Pena, yang hanya berfungsi ketika ku berkarya"

Tampilkan postingan dengan label abnormal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label abnormal. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 Januari 2012

Catatan Abnormal


Dan setiap hari berjalanku dengan kaki yang mulai berdarah, bernanahkan kebencian pada diriku. Kebencian atas segala kemunafikan yang kubanggakan seolah-olah kebaikan itu tak ada. Tak nampak dipelupuk mata. Hingga setiap dernyit roda yang terdengar begitu keras teracuhkan dinding ego yang begitu tebal. Bagiku, dunia hanyalah ke-tiada-an. Setidaknya untuk hari ini.


Hanya membuang waktu, tak ada produktifitas disitu. Gemurus suara pemberi semangat ku anggap hanya sebuah gaduh, mengganggu, merusak suasana nyaman tidurku. Pasif, namun imaji selalu terbang tinggi. Cita membuat sekeliling lebih bangga, hanyalah goresan-goresan cerita sebuah pena yang akhirnya menjadi noda, bukan karya.

Inilah aku, yang selalu bangga dengan keadaanku. Meski banyak orang menetuk bahu dan mengingatkanku, masa bodo dengan itu. Aku hanya ingin berlari sendiri, tanpa tangan-tangan suci yang seringkali malah merantai kaki, menyerimpung langkahku, dan terjatuh. Inilah aku, tak tahu malu. Tapi setidaknya aku masih menikmati itu. Tak perlu repot menyiapkan sarapan untukku, karena aku bangun saat matahari mulai meninggi. Dan daya potensi sudah keluar habis waktu dini.

Bandung, 21 januari 2012. 
Read More...

Kamis, 12 Januari 2012

Pesan Untuk Sang Kehidupan



Hidup. Ku awali catatanku ini dengan sebuah kata yang absurd. Ya, ia tak pernah mampu diartikan secara pasti oleh subjek-sebjek yang mengelilingi sekitarnya. Ia sering diartikan masalah. Ia sering diartikan proses. Ia sering diartikan sebuah jembatan penyembrangan dimana tujuannya itu adalah ridha yang bersifat transendentral. Aku tak mengenalmu, aku hanya mengenalmu secara parsial, kau adalah aktifitas disaat ku bernafas.

Jauh dari pemaknaanku ternyata. Kau selalu menuntut sebuah perubahan pada subjekmu. Kau selalu membebankan hal pada setiap sesuatu yang ada didekatmu. Satu kata yang menjadi otoritas setiap makhluk yang ada. Sebuah kata yang bersifat otoritas namun, kata kau sendiri yang tak jarang merampas kehidupan makhluk pemegang otoritasmu. Yah, satu lagi maknamu. Hidup adalah kebebasan.

Hidup, kulihat kau seringkali tak berbentuk. Kulihat kau bak labirin yang selalu memaksaku untuk mencari setiap solusi yang pasti. Tak jarang kau lurus, dan membosankan. Sehingga mendorongku untuk selalu berpikir kreatif dalam menyikapimu.

Hidup, kau memang menjengkelkan. Kadang kau merangkulku layaknya saudaramu, kadang kau berjalan disampingku, menemaniku layaknya sahabat-sabahat kecilmu, tapi kau juga, ya kau juga sering mendorongku jatuh dan membuatku tak percaya diri untuk terbangun kembali. Sering ku berdarah karena kelakuanmu itu, dan sebuah tilas menjadi alasan mu untukku selalu belajar sari setiap luka yang menghantamku tanpa kasihan. Hidup, sebenarnya siapa tuanmu? Kau benar-benar misterius.

Hidup, silahkan kau pun berhak memaknai aku dengan analisa realitasmu. Ketika puing-puing masalah membentuk sebuah benteng tebal yang kau namai tantangan, tak tahu malu. Aku tuanmu. Tak berhak sedikit pun kau menguji aku.

Dan semenjak itu, saat kau teriakan tepat ditelinga kananku bahwa kau adalah metode Tuhan, metode untuk menjadikanku hamba yang Ia sayangi, aku tertegun munafik. Aku malu, aku takut, aku sangat menghamba pada Tuhanku, tapi aku tetap membencimu, hidup.

Membencimu dan segala elemen yang ada pada dirimu. Dan ingatlah, jika ini bukan sebuah amanah Tuhanku, sama sekali aku tak mau mengenalmu, tak mau untuk senantiasa berjalan disisimu, tak rela untuk sekadar berangkulan atau berbincang ringan denganmu. Tapi kini, disela amarahku padamu, aku ingin kita melanjutkan persahabatan ini, dengan satu syarat; simbiosis mutualisme.
Read More...

Jumat, 30 Desember 2011

BODOH??

Di sabtu pagi, seperti pagi biasanya, secangkir kopi dan beberapa batang rokok menemani ritual pagiku. Kulihat, komputer yang semalam lupa untuk ku matikan, nampak beberapa notifikasi dari akun facebook ku.  Dan munculah sebuah notifikasi “Hasanuddin Lukman El-Hakim Zindan menandai Anda dalam catatan "Lagi dan Lagi [The Foolest Boy]".”. kubaca, ternyata temanku melontarkan wacana dalam tulisannya, tentang “budaya kebodohan yang ada dalam pribadinya” mungkin itu yang bisa ku tangkap dalam tulisannya, karena memang tulisan berbau metafor agak sulit untuk ditafsirkan satu sisi.

Dan tertarik untuk beropini tentang karya temanku yang satu itu, maka terpikir untuk membuat satu catatan untuk menyikapi wacana yang sebelumnya dilontarkan. Tentang Kebodohan, ya kebodohan.

Apa itu bodoh? 
Bodoh adalah kata negatif yang digunakan atas sesuatu yang semena-mena , takabur, result dari sebuah aksi yang menggampangkan sebuah konteks. Bodoh itu bukan khilaf. Khilaf dilakukan secara tidak sengaja, dan bodoh itu sengaja. Namun kalau sesuatu yang terlihat bodoh itu ternyata tidak sengaja atau menjadi nasib hidup , maka saya akan menyebutnya 'tertinggal', 'terbelakang' atau “memiliki sebuah standard yang dibawah rata-rata", (tapi bukan bodoh) , ini sebuah pengertian yang objective tanpa penekanan negatif.

Dan ingat, pada ahli banyak mengatakan jika hakikatnya manusia memiliki segala potensi yang mampu menjadikannya seorang khalifah dimuka bumi. Pertanyaannya, apakah Tuhan tega atau dimana logika Tuhan untuk menjadikan makhluk yang bodoh sebagai pemimpin di bumi?

Kazuo Murakami, Ph. D, ahli genetika terkemuka didunia asal Jepang, dalam bukunya “The Divine Message Of The DNA” menyatakan, manusia hanya mampu mengaktifasi potensi 5% dari 100% yang ada dalam tubuhnya. Jika Einstain dijuluki manusia terpintar pada abad 20, atau dikisahkan bagaimana Shahabat Umar Bin Khatab mampu melihat dengan jarak pandang 80 Kilometer, maka itu dikatakan hanya beberapa persen potensi yang mampu untuk diaktifasi oleh seorang manusia. Dan anda bayangkan jika aktifasi itu mampu ditingkatkan seorang manusia.

Maka apalagi alasan kita untuk menghakimi orang lain, atau mungkin menghakimi diri pribadi “BODOH” ? lalu mengapa jika itu terjadi, masih ada kata “BODOH”?

Bodoh adalah sesuatu yang dilakukan karena pembodohan. Begitulah kira-kira jika saya boleh berpendapat. Ya, bodoh itu akibat. Dari sebuah sebab yang disebut dengan aktifitas “pembodohan”. Sehari-hari kita mencerna sebuah acara televisi yang hakikatnya tak mampu membuat kita jadi pribadi yang lebih tangguh, itu pembodohan. Bahkan, sistem pendidikan yang hanya menjadikan seorang manusia jadi pekerja modern tanpa mengindahkan sisi-sisi sosial sebagaimana prinsip intelektual itu sendiri, itu juga pembodohan. Dan masih banyak kasus yang lainnya.

Jadi intinya, bodoh hanyalah sebuah sugesti yang diterima dari sebuah aktifitas pembodohan yang kita lakukan, atau mungkin menerpa kita. Bahkan mungkin, kata bodoh yang kita keluarkan mampu ditafsirkan sebuah rasa ke-tidak-bersyukur-an kita akan anugerah yang Tuhan berikan dalam wujud potensi-potensi yang ada dalam diri kita. Maka, yang menentukan kita jadi pintar atau “kurang pintar” adalah sejauh mana kita mampu memanfaatkan dan memaksimalkan segala potensi yang ada dalam diri kita.


Read More...

Selasa, 27 Desember 2011

Sebuah Hanya Dari Sekedar


Realitas di dalamnya seolah menghindar dari teori-teori. Selalu ada yang luput dari jangkauan inderaku. Ironisnya, setiap satu hal pelik terjelaskan, muncul masalah baru yang menuntut konstruksi nalar untuk memahaminya. Ibarat puzzle dengan kepingan-kepingan tak terhingga, kompleksitas realitas hari ini untukku rasa sulit untuk menafsirkan, meski ayat-ayat nampak jelas dipelupuk mata.

Ruang-ruang kebebasan kini bak belantara acak yang seolah tak berpeta, tak berpola, tanpa kategori. Apakah diri harus berhenti membaca dan memahami ini? Apakah itu tanda berakhirnya kemampuan murni tanpa kemunafikan? dalam keadaan terjepit beban dan kaki tercancang izinkah saya berkata: "TIDAK".

Dan biarkan sejenak aku berpikir. Biarkan ku berpikir dan menetapkan kepastian-kepastian tak terbantahkan, ia suci dan murni tanpa sedikit pun goresan dosa-dosa yang sering dibuat bangga. Pulanglah, setelah sekian jauh kau melangkah. Dan akhirnya nalar yang terbatas kembali ke pangkuan mimpi. Masihkah kau bisa agungkan konsepsi? Paradoksal, karena konsepsi yang konon membebaskan langkah, hari ini adalah ’sang pengemis’ yang menanti juluran tangan para ahli manipulator hati.

dan ingatlah kata seorang bijak, 
Janganlah mencari Tuhan karena anda membutuhkan jawaban.
Carilah Tuhan karena anda tahu bahwa Dia lah jawaban yang anda butuhkan.


Buah-batu, 27 Desember 11 22:11
Read More...

Minggu, 25 Desember 2011

Tentang Keluh


Entah kenapa dalam kesendirian langit sore tak kunjung cerah. Mendung, lalu ia hujan. Dan aku hanya mampu menuliskan struktur-struktur kalimat tentang keluh kesah. Tak mampu lisan berbicara hak pada subjektifitas ego dan rasa yang absurd.

Engkau sang perempuan terkasih, yang sejenak kulupakan, kerana dalam sepi yang jahat tumbuh alang-alang di hatiku yang malang. Aku terjaga dan termangu menatap rak buku-buku, mendengar hujan menghajar dinding bak persoalan yang datang tak pernah kenal kasian.

Dan kau sering bertanya eksistensiku dimana. Bertanya tentang sentuhan perhatianku ku lempar pada siapa. Dan tak jarang kau keluhkan setiap ekspresi yang mentradisi dalam hidup ini. Aku mengerti. Aku disini, masih diam ditepi jalan. Jalan cerita yang tak bisa untukku tak peduli pada setiap gejala-gejala penyakit jiwa yang memberangus habis logika sehatku. Sedikit-sedikit ku menyanyikan lagu tentang mega-mega malam, namun kau menutup mulutku bernyanyi.

Tanganku tanpa senjata yang pas. Tanpa baju zirah yang mampu menahan segala kesakitan  dari sang lawan, ia enggan terhenti untuk memburu. Seringku bersembunyi dibalik dinding-dinding kealfaan, namun dosa selalu berteriak , “itu congkak...!!!”.  Bahkan sang lawan tertawa terbahak mendengarnya.  Aku malu mengadu padamu tentang kelemahanku. Aku enggan terlihat inklusif, sedangkan aku pasif. Lawanku adalah sugestiku. Aku menamainya, cemburu.

“Apa masalahku dengan itu?”. Serentak kau bertanya membabi-buta.

Masa lalu tetaplah masa lalu. Ia hanyalah cerita yang makna tak pernah direkam rahasia. Dan sedikit cinderamata dari maya..



Datanglah padaku dalam keadaan yang bersih. Dimana aku dapat bebas menentukan setiap prolog untuk teras ceritaku.

Bandung, 25 Desember 2011.
Read More...

Sabtu, 17 Desember 2011

Pesan Sang Penyulam Malam III

Malam ini terasa sangat dingin. Entah kenapa, padahal sudah bermantel tebal sebari setia menghadap perapian. Karena kamu kah? mungkin, bahkan ia. Karena perbincangan tentang potensikah? atau memang faktor simbiosis sudah terputus ketika kau sudah terlihat atau mungkin hanya merasa hebat? bahkan sebaliknya. ketika kau sering berkata tak bisa, tak mau, tak mampu, benarkah? atau kau hanya perlu menunggu aku merendahkan diri, dan memohon untuk membantumu, ya membantumu. Meski kau tak pernah meminta untuk dibantu.

Nak, kuingat sebuah kisah seekor anak anjing yang kecil mungil sedang berjalan-jalan di ladang pemiliknya. Ketika dia mendekati kandang kuda, dia mendengar binatang besar itu memanggilnya. Kata kuda itu : “Kamu pasti masih baru di sini, cepat atau lambat kamu akan mengetahui kalau pemilik ladang ini mencintai saya lebih dari binatang lainnya, sebab saya bisa mengangkut banyak barang untuknya, saya kira binatang sekecil kamu tidak akan bernilai sama sekali baginya”, ujarnya dengan sinis.

Anjing kecil itu menundukkan kepalanya dan pergi, lalu dia mendengar seekor sapi di kandang sebelah berkata : “Saya adalah binatang yang paling terhormat di sini sebab nyonya di sini membuat keju dan mentega dari susu saya. Kamu tentu tidak berguna bagi keluarga di sini”, dengan nada mencemooh.

Teriak seekor domba : “Hai sapi, kedudukanmu tidak lebih tinggi dari saya, saya memberi mantel bulu kepada pemilik ladang ini. Saya memberi kehangatan kepada seluruh keluarga. Tapi omonganmu soal anjing kecil itu, kayanya kamu memang benar. Dia sama sekali tidak ada manfaatnya di sini.”

Satu demi satu binatang di situ ikut serta dalam percakapan itu, sambil menceritakan betapa tingginya kedudukan mereka di ladang itu. Ayam pun berkata bagaimana dia telah memberikan telur, kucing bangga bagaimana dia telah mengenyahkan tikus-tikus pengerat dari ladang itu. Semua binatang sepakat kalau si anjing kecil itu adalah mahluk tak berguna dan tidak sanggup memberikan kontribusi apapun kepada keluarga itu.

Terpukul oleh kecaman binatang-binatang lain, anjing kecil itu pergi ke tempat sepi dan mulai menangis menyesali nasibnya, sedih rasanya sudah yatim piatu, dianggap tak berguna, disingkirkan dari pergaulan lagi…..

Ada seekor anjing tua di situ mendengar tangisan tersebut, lalu menyimak keluh kesah si anjing kecil itu.

“Saya tidak dapat memberikan pelayanan kepada keluarga disini, sayalah hewan yang paling tidak berguna disini.”

Kata anjing tua itu : “Memang benar bahwa kamu terlalu kecil untuk menarik pedati, kamu tidak bisa memberikan telur, susu ataupun bulu, tetapi bodoh sekali jika kamu menangisi sesuatu yang tidak bisa kamu lakukan. Kamu harus menggunakan kemampuan yang diberikan oleh Sang Pencipta untuk membawa kegembiraan. ”

Malam itu ketika pemilik ladang baru pulang dan tampak amat lelah karena perjalanan jauh di panas terik matahari, anjing kecil itu lari menghampirinya, menjilat kakinya dan melompat ke pelukannya. Sambil menjatuhkan diri ke tanah, pemilik ladang dan anjing kecil itu berguling-guling di rumput disertai tawa ria.

Akhirnya pemilik ladang itu memeluk dia erat-erat dan mengelus-elus kepalanya, serta berkata : “Meskipun saya pulang dalam keadaan letih, tapi rasanya semua jadi sirna, bila kau menyambutku semesra ini, kamu sungguh yang paling berharga di antara semua binatang di ladang ini, kecil kecil kamu telah mengerti artinya kasih……. ..”

Jangan sedih karena kamu tidak dapat melakukan sesuatu seperti orang lain karena memang tidak memiliki kemampuan untuk itu, tetapi apa yang kamu dapat lakukan, lakukanlah itu dengan sebaik-baiknya. …

Dan jangan sombong jika kamu merasa banyak melakukan beberapa hal pada orang lain, karena orang yang tinggi hati akan direndahkan dan orang yang rendah hati akan ditinggikan.

Dan, nak.. aku tak tau mana yang menjadi karaktermu. Karena kulihat, kadang kau menjadi salah satu hewan yang ada dipeternakan tersebut, dan tanpa kau sadari kau telah mengeksploitasi si 'anjing kecil' itu. Namun, tak jarang malah kau merasa menjadi si 'anjing kecil', dan aku tak tau mengapa kau merasa seperti itu. Tapi, yang tegas jelas dalam pandanganku hanyalah sikapmu yang selalu dapat membuatku bertanya kesal, namun ada keraguan saat kuhendak untuk murka akan itu. Dan kadang bisa ku rindu akan ekspresi itu.

Nak, seperti hari ini.. aku rindu melihatmu berjingkrak, berguling-guling manja dengan kata-kata utopismu.

Nak, aku rindu... Merindukamu..
Read More...

Pesan Sang Penyulam Malam II

Lagu-lagu cinta itu membuatku gusar. Kebohongan-kebohongan nampak indah kudengar. Namun tetap tak pernah mengubah sesuatu yg muram, menjadi lebih indah. Kamu tau itu. Aku hanyalah pelipur yg tak pernah akan menjadi harapan.

Adalah sebuah kelelahan. Kelelahan ku bersabar mengartikan sebuah ayat yang kau berikan. Entah itu palsu, atau mungkin titik ketepatanku lemah menafsirkannya. Tapi aku lelah, dan kau enggan memberiku segelas air ditengah kelelahanku.

Adalah sebuah pengorbanan. Pengorbananku untuk selalu tersenyum seraya mengelus dada, dan menafikan endusan-endusan kemunafikan yang berjalan tepat ditengahnya. Tak lagi nampak produktif untuk ku perjuangkan pengorbanan. Tak ada ucap maaf, setidaknya kata angkuh selamat. Dan pengorabanan ini suci, jernih dan bersih. Mengapa kau kotori, dan ku lelah membersihkan kesucian, kejernihan, dan kebersihan ini, yang lagi-lagi hendak kau kotori. Dan baiknya kini ku korbankan pengorbananku.

Dan sadarkah jika ini bukan kutukan, biarkan ku berevolusi dan berjalan pergi. Meski tak ku pungkiri, disela perjalanan tak kuasa ku sejenak menoleh ke arahmu. Karena ranai telah membekas. karena ranai tak berbatas.

Bandung, 05 Desember 11.

Ditulis saat bangun tidur.
Read More...

Pesan Sang Penyulam Malam I


Masih tentang munajat-munajat sunyi kehidupan, dan kadang butuh sebuah alasan untuk tetap hidup dlm ikatan.

mengapa terdiam dikaki gunung, jika kita mampu melewati tantangan, dan melihat indahnya pesona dipuncak batas kemampuan.

dan mari sejenak berpikir..

didasari sebuah kepedulian tanpa kemunafikan, tegas ku gemas, takluk ku peluk sang penakluk. hingga tak jarang pandang mengabur dan indahmu tertelan nilai-nilai tak sehat, dan trus semakin menguat.

dan mampukah kau membuang muka melihat keluh dan tetes-tetes keringat menyengat ekspresi semangat yang sebelumnya berkobar begitu kuat.

dan mengapa terus berkata tidak untuk diri anda??

sedangkan potensi sempurna merancang anda sebagai makhluk yang mempu, dan selalu siap untuk mampu.

bukankah Tuhan menitipkan 2 mata untuk kita memandang sesuatu lebih dari 1 sisi. Atau dengan potensi telinga yg ada, kita perlu mendengarkan ucap lebih dari 1 pihak. atau 2 kaki yg tak lain untuk menuntun kita tak hanya hidup dalam 1 jalan. maka lihatlah, dengarlah, dan berjalanlah tidak hanya dalam 1 sisi,1 arti, atau 1 jalan. meski untuk itu semua Tuhan menitipkan 1 hati, 1 otak sebagai fungsional hakim dari organ taksis yg ada dalam tubuh kita.

maka jika cahaya menjadi sebab adanya bayang, maka siluet adalah berkas yg mampu menjadi modal untuk kita belajar hal yg bersifat masa lalu, untuk merumuskan sesuatu dimasa depan.

adalah sebuah hikmah...
adalah sebuah kasih sayang..
Read More...

Manuskrip Melodrama Rasa

Ada ketika lama wujud tak jumpa. Ada ketika memori-memori usang mulai termakan usia. Ia pun ada ketika sosok-sosok bersahaja mulai menampakan eksistensinya. Malam bersahabat dengan segala imaji tentang diri yang terkagumi. Tentang diri yang lama tak ku sua pesona cantiknya.

Sebuah analog pembaharu. Sebuah kisah yang direvisi oleh matinya alfa dalam karya kotor manusia. Kadang aku melihat cermin, dan ku tanya sosok yang ada. Mengapa dia? Mengapa hatinya?

Dan belitan cerita mulai menampakkan diri sebagai rasa. Rasa takjub akan setiap nilai yang kau keluarkan dalam wajan penuh keikhlasan. aku mengerti setiap pesan cermin itu. Aku mengerti makna yang ia lemparkan tepat dan cepat ke arah uluhatiku. Aku tegaskan artinya, namun segan ku ungkap ia.

Dan kini, diujung senja saat langit mulai menguning. Sedikit demi sedikit mulai kubuka carik kertas kesunyian. Dialog-dialog tentang kehidupan. Dan mulai meratapi manuskrip-manuskrip melodrama rasa. Ya, aku rasakan itu. Ku mulai tergugah untuk mengucapnya pada cermin.

“aku cinta dia”

Dan biarkan ia tahu, meski ia tak mengenalku. Dan sampaikan, aku bak samudra yang akan terlihat keindahannya jika ia menyelaminya. Dan kubuka sepenuhnya diri untuk mengenalnya dan mengenalku dengan ikatan.
Read More...

Do'a Untuk Bilqis

Nak, selamat datang didunia. Selamat berkarya, selamat berjalan, selamat menghirup udara pertamamu.

Nak, aku ingin bercerita tentang seorang raja yang pernah hidup di Roma, saat ia hendak menghembuskan nafas terakhirnya, beliau berpesan untuk dibuatkan sebuah catatan perjalanan selama ia hidup.

Dipanggilnya, para sastrawan kerajaan. Sastrawan pertama menuliskan perjalanan hidup sang raja dengan sebuah buku, dan raja menolak itu, "itu terlalu panjang untukku baca, hidupku takkan lama lagi" ujar sang Raja. Sastrawan kedua menuliskannya dalam sebuah cerpen, sang raja pun menolaknya kembali, "itu masih terlalu panjang" jawab sang Raja dengan suara berat karena kesakitan. Dan sastrawan terakhir pun datang, ia menuliskan perjalanan hidup sang raja hanya dalam beberapa kata. "Hidup; Lahir... Merangkak... Berjalan... Sakit... Hampir Mati.... lalu Mati.." membaca itu sang Raja pun tersenyum dan menghembuskan nafas terakhirnya.

Begitulah perjalanan hidup nak, singkat. Memang singkat. Maka, do'a ku yang pertama adalah mengharapkan agar setiap langkah, setiap gerak, dan setiap kamu bernafas semoga senantiasa dalam bimbingan dan kasih sayang Tuhan yang Maha Pengasih.

Nak, jangan pernah kau heran. Ketika disekelilingmu tak seperti apa yang kau bayangkan dalam kandungan ibumu. Ya, tak selalu dunia berlaku lembut padamu. Kadang pemilik dunia ini menyampaikan kasih sayangnya dalam bentuk yang mungkin agak sulit kau tafsirkan, sulit untuk kau cerna hikmah didalamnya. Tapi percayalah nak, Tuhanmu begitu sangat menyayangimu.

Nak, itu kakakmu. Ia memang terlihat beda denganmu, ia memang nampak inklusif kepada dunianya. Tapi percayalah nak, ia menyayangimu layaknya ibu dan bapakmu. Nak, benar itu ibu dan bapakmu, ciumlah tangan mereka saat kau hendak berjuang ditengah kerasnya arus kehidupan hari ini. Do'akan mereka, cintai mereka, karena merekalah yang nantinya menjadi mediamu mencium harumnya surga. Kau ingin kesana kan?

Nak, aku selalu berharap dan berdo'a, tangisan-tangisanmu hari ini kelak akan menjadi suara merdu yang selalu menjadi bahan untukku merindumu. Sentulah-sentuhan kecil jemarimu kelak akan menjadi gerakan-gerakanmu dalam berkarya. Bahkan, saat kau buang air besar, ku percaya itu sebuah petanda jika kelak kau akan selektif menerima apa yang akan kamu masukan kedalam kehidupanmu, akan kau ambil yang baik, dan membuang apa yang kau rasa kotor.

Nak, berbahagialah... teriakan selalu kebenaran. Kumandangkan lafadz-lafadz kebesaranNya. Karena kau adalah senyum bagi keluarga, karena kau adalah alasan bagi kami untuk selalu kembali pulang dan sesegera mungkin pulang dari perantauan.

Nak, selamat datang dalam ke-fana-an.

Bandung, 10 Desember 2011
Read More...

Tentang Sebuah Pesan


Kali ini, bahkan dibanyak kesempatan kulihat ia berbicara tentang kebenaran. Orasi-orasi meninggi, narasi-narasi raksasa tentang asal usul realitas nampak tak pantas. Bahkan ketika segala sesuatu tercipta waktu, kulihat ia menjejakkan kakinya dalam bekasnya tapak lumpur sejarahku.

Sayangnya, ditengah perjalanan, kulihat ia kehilangan jejak dan menjadi orang asing didalam dirinya sendiri. Kulihat ia telah berubah menjadi pengelana yang melangkah di antara perjalanan keluhkesah dan selalu gagal membaca arah. Ia tertahan dalam jati diri seorang peninggi, itu bukan dia. Meski manuver mulai menggeliat dari kepompong-kepompong revolusi yang sudah berdiri lama diujung senja.

Ini bukan kritik amal, atas dasar niat yang bersifat kedalam sama sekali bukan urusan kita. Kali ini, wacanaku sama sekali emoh bicara tentang makna. Yang ada hanyalah membongkar pelbagai konstruksi makna yang dirajut secara politis. Membuat makna yang tadinya begitu stabil menjadi guncang dan akhirnya ambruk.

Dan terakhir kudengar kabar maut bagi para penggandrung realitas; Realitas sudah mati!
Read More...

Kujawab dengan Sastra


Perenungan atas kompleksitas para-semesta belum jua berakhir. Upaya manusia dalam memaknai dan menelikung kepelikan tersebut sampai sekarang pun urung menyua ujung. Bagaimana ini? Semua nampak unjuk gigi tanpa sedikitpun makna tersentuk khalayak. Alih-alih menguasai, memahami, untuk menemukan secercah kepastian tentang realitas, manusia-manusia itu hanya bercanda dengan moralitas tak jelas.

Sesaat jawaban itu nampak. Ekspansi jagad rupanya ditakdirkan untuk menaungi perjalanan tiap generasi dengan rahasia yang terus berlipat. Selalu saja ada kemungkinan bagi kebaruan yang menyanggah setiap penemuan. Kebenaran tak pernah bertahan nyatanya kini. Perenunganlah yang menyua kemapanan. Diantara hela nafas panjang yang menderit langkah pejuang suci, terdengar orasi-orasi tak bernilai yang semakin menelanjangi setiap rasio yang hendak ku keluarkan, dan hendak ku lempar ke muka-muka para pendosa.

Alhasil, dia hanya terdiam, tak ada sedikit pun manifestasi maaf. Entah karena kemampuan untuk merelung dan menilik manusia atau memang rupanya ia harus hidup dan berjalan dalam aras takdir yang kadang menjemukan ini. Biarkan dia menjadi cermin, cermin yang kotor. Yang hanya akan menjadi wujud kotor, siapa pun materi yang ada disebrangnya.

Mereka membuang muka. Kulihat ludah berjatuhan tanda kebesaran ego sang pemilik publik. Anehnya, bagaimana mungkin kedigjayaan fikir bisa merengkuh keangkuhan, yang dulu sempat terenyak dalam kebodohan. Atau bahkan, asumsi pribadi jadi hukum yang mereka genggam, dan rahasia yang lain ia sembunyikan untuk bawaku melawan musuh dibalik benteng-benteng tebal. Antara kemunafikan, dan konspirasi-konspirasi itu ku baca lancar kawan. 

Ia dan mereka, ku baca jelas. Bahkan dengan mata tertutup pun aku mampu merasakannya. Merasakan kegigihannya saat mencoba merasuki nalar manusia dan menyentil kedalaman renung agar arah bacaan tidak melenceng, apalagi berbalik jalan. Ia juga merayapi, kadangkala hingar-bisingnya bakar semangat orang-orang jernih diantara keheningan agar manusia nampak tersadar. Begitulah, hingga pada akhirnya kebenaran menyeruak di antara kelamnya penafsiran.   
    
Dan biarkan aku keluar barisan, dan terasingkan. Dan kuurungkan lagi pedang yang sebelumnya telah kuhunuskan.
Ini pilihan, dan akan menjadi suatu kebahagiaan bagi mereka yang kemudian bisa mengingat apa-apa yang terlupa. Sebab, harapan dan kemungkinan seringkali bersembunyi di sana. 

Manusia; hidup memang hanya mesti percaya, hanya entah pada ayat yang mana. Dan biarkan kujawab dengan sastra.


Read More...