"Aku adalah Pena, yang hanya berfungsi ketika ku berkarya"

Minggu, 25 Desember 2011

Tentang Keluh


Entah kenapa dalam kesendirian langit sore tak kunjung cerah. Mendung, lalu ia hujan. Dan aku hanya mampu menuliskan struktur-struktur kalimat tentang keluh kesah. Tak mampu lisan berbicara hak pada subjektifitas ego dan rasa yang absurd.

Engkau sang perempuan terkasih, yang sejenak kulupakan, kerana dalam sepi yang jahat tumbuh alang-alang di hatiku yang malang. Aku terjaga dan termangu menatap rak buku-buku, mendengar hujan menghajar dinding bak persoalan yang datang tak pernah kenal kasian.

Dan kau sering bertanya eksistensiku dimana. Bertanya tentang sentuhan perhatianku ku lempar pada siapa. Dan tak jarang kau keluhkan setiap ekspresi yang mentradisi dalam hidup ini. Aku mengerti. Aku disini, masih diam ditepi jalan. Jalan cerita yang tak bisa untukku tak peduli pada setiap gejala-gejala penyakit jiwa yang memberangus habis logika sehatku. Sedikit-sedikit ku menyanyikan lagu tentang mega-mega malam, namun kau menutup mulutku bernyanyi.

Tanganku tanpa senjata yang pas. Tanpa baju zirah yang mampu menahan segala kesakitan  dari sang lawan, ia enggan terhenti untuk memburu. Seringku bersembunyi dibalik dinding-dinding kealfaan, namun dosa selalu berteriak , “itu congkak...!!!”.  Bahkan sang lawan tertawa terbahak mendengarnya.  Aku malu mengadu padamu tentang kelemahanku. Aku enggan terlihat inklusif, sedangkan aku pasif. Lawanku adalah sugestiku. Aku menamainya, cemburu.

“Apa masalahku dengan itu?”. Serentak kau bertanya membabi-buta.

Masa lalu tetaplah masa lalu. Ia hanyalah cerita yang makna tak pernah direkam rahasia. Dan sedikit cinderamata dari maya..



Datanglah padaku dalam keadaan yang bersih. Dimana aku dapat bebas menentukan setiap prolog untuk teras ceritaku.

Bandung, 25 Desember 2011.

0 komentar:

Posting Komentar