"Aku adalah Pena, yang hanya berfungsi ketika ku berkarya"

Tampilkan postingan dengan label Wacana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wacana. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 Februari 2012

Berfikir Untuk Bersyukur

Dari semua yang kita miliki dan selalu kita gunakan apakah ada rasa syukur dalam diri kita terhadap pencipta semua yang kita miliki dan yang kita gunakan. Mari sejenak kita renungkan suatu hal yang biasanya luput dari perhatian kita, yang tanpa sadar itu sudah menjadi kebutuhan yang tidak bisa terlepas dari hidup kita. Mari kita berpikir mulai dari kita bangun maka kita akan mengetahui mengapa kita harus bersyukur kepada-Nya.

Allah menganugerahkan banyak pertolongan bagi manusia. Semua kebutuhan makhluk hidup disediakan dengan mudah; tiada sesuatu apapun yang terlewat. Sebagai contoh; mari kita berpikir tentang diri kita. Dari saat kita bangun tidur, kita memerlukan banyak hal dan menemukan beragam keadaan. Singkatnya, kita dapat bertahan hidup karena banyaknya pertolongan yang dilimpahkan kepada kita.

Kita mampu bernapas; segera setelah kita bangun tidur. Kita tidak pernah mengalami kesulitan dalam melakukannya, hal tersebut disebabkan oleh karena sistem pernafasan kita dapat berfungsi dengan baik.

Kita mampu melihat; segera setelah kita membuka mata kita. Pemandangan yang jauh serta jelas, semuanya dalam bentuk tiga dimensi dan penuh dengan warna-warni, dapat dilihat dengan mata kita, tentu saja hal ini disebabkan oleh karena desain mata kita yang unik.

Kita mencicipi beragam rasa. Kebutuhan yang berbeda-beda akan vitamin, mineral, karbohidrat atau protein yang terkandung dalam makanan yang kita makan, serta bagaimana kelebihan nutrisi ini disimpan atau digunakan di dalam tubuh tidak pernah merisaukan kita. Lagi pula, kita hampir tidak pernah memikirkan bahwa terjadi proses yang rumit di dalam tubuh kita.

Berfikir saat memulai hari; kunci untuk bersyukur.

Tidak diperlukan kondisi khusus bagi seseorang untuk memulai berpikir. Bahkan bagi orang yang baru saja bangun tidur di pagi hari pun terdapat banyak sekali hal-hal yang dapat mendorongnya berpikir. Dari mulai bagun tidur saja begitu banyak masalah yang perlu kita pikirkan. Dari hal yang terlihat sepele hingga memikirkan apa saja kegiatan kita dalam sehari ini. Karena apa yang kita lakukan harus medjadi manfaat bagi diri kita. Allah SWT berfirman: "Dialah yang menjadikan untukmu malam (sebagai) pakaian, dan tidur untuk istirahat, dan Dia menjadikan siang untuk bangun berusaha." (QS. Al-Furqaan, 25: 47)

Setelah membasuh muka dan mandi, kita merasa benar-benar terjaga dan berada dalam kesadarannya secara penuh. Sekarang ia siap untuk berpikir tentang berbagai persoalan yang bermanfaat untuk kita. Banyak hal lain yang lebih penting untuk dipikirkan dari sekedar memikirkan makanan apa yang kita punya untuk sarapan pagi atau pukul berapa ia harus berangkat dari rumah. Dan pertama kali ia harus memikirkan tentang hal yang lebih penting ini.

Pertama-tama, bagaimana kita mampu bangun di pagi hari adalah sebuah keajaiban yang luar biasa. Kendatipun telah kehilangan kesadaran sama sekali sewaktu tidur, namun di keesokan harinya kita kembali lagi kepada kesadaran dan kepribadian kita. Jantung kita berdetak, kita dapat bernapas, berbicara dan melihat. Padahal di saat ia pergi tidur, tidak ada jaminan bahwa semua hal ini akan kembali seperti sediakala di pagi harinya.

Memulai hari yang baru dengan kesehatan yang prima memiliki makna bahwa Allah kembali memberikan seseorang sebuah kesempatan yang dapat dipergunakannya untuk mendapatkan keberuntungan yang lebih baik di akhirat. Ingat akan semua ini, maka sikap yang paling sesuai adalah menghabiskan waktu di hari itu dengan cara yang diridhai Allah.

Sebelum segala sesuatu yang lain, kita pertama kali hendaknya merencanakan dan sibuk memikirkan hal-hal semacam ini. Titik awal dalam mendapatkan keridhaan Allah adalah dengan memohon kepada Allah agar memudahkannya dalam mengatasi masalah ini. Doa Nabi Sulaiman adalah tauladan yang baik bagi orang-orang yang beriman: "Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri ni'mat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh" (QS. An-Naml, 27 : 19)

Kelemahan manusia mendorong kita untuk berpikir.

Tubuh manusia yang demikian lemah ketika baru saja bangun dari tidur dapat mendorong manusia untuk berpikir: setiap pagi ia harus membasuh muka dan menggosok gigi. Sadar akan hal ini, ia pun merenungkan tentang kelemahan-kelemahannya yang lain. Keharusannya untuk mandi setiap hari, penampilannya yang akan terlihat mengerikan jika tubuhnya tidak ditutupi oleh kulit ari, dan ketidakmampuannya menahan rasa kantuk, lapar dan dahaga, semuanya adalah bukti-bukti tentang kelemahan dirinya.

"Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa." (QS. Ar-Ruum, 30: 54)

Sebagian besar manusia sangat terpukau oleh ketampanan atau merasa rendah dikarenakan keburukan wajah mereka semasa masih muda.  Pada umumnya, manusia yang dahulunya berwajah tampan ataupun cantik bersikap arogan, sebaliknya yang di masa lalu berwajah tidak menarik merasa rendah diri dan tidak bahagia. Proses penuaan adalah bukti nyata yang menunjukkan sifat sementara dari kecantikan atau keburukan penampilan seseorang. Sehingga dapat diterima dan masuk akal jika yang dinilai dan dibalas oleh Allah adalah akhlaq baik beserta komitmen yang diperlihatkan seseorang kepada Allah.

Setiap saat ketika menghadapi segala kelemahannya manusia berpikir bahwa satu-satunya Zat Yang Maha Sempurna dan Maha Besar serta jauh dari segala ketidaksempurnaan adalah Allah, dan iapun mengagungkan kebesaran Allah. Allah menciptakan setiap kelemahan manusia dengan sebuah tujuan ataupun makna. Termasuk dalam tujuan ini adalah agar manusia tidak terlalu cinta kepada kehidupan dunia, dan tidak terpedaya dengan segala yang mereka punyai dalam kehidupan dunia. Seseorang yang mampu memahami hal ini dengan berpikir akan mendambakan agar Allah menciptakan dirinya di akhirat kelak bebas dari segala kelemahan.

Sudah sepatutnya kita bersyukur terhadap semua karunianya. Kelebihan dan kerurangan kita adalah anugerah yang begitu luar biasa. Kelebihan sepatutnya menjadi suatu alat untuk kita bersyukur dengan berbagi kepada sesama. Begitu pula kelemahan. Kelemahan adalah alat untuk kita merenungi segala potensi yang ada dalam diri kita maupun orang lain adalah suatu karunia Allah yang tidak ada batasnya.
Read More...

Jumat, 30 Desember 2011

BODOH??

Di sabtu pagi, seperti pagi biasanya, secangkir kopi dan beberapa batang rokok menemani ritual pagiku. Kulihat, komputer yang semalam lupa untuk ku matikan, nampak beberapa notifikasi dari akun facebook ku.  Dan munculah sebuah notifikasi “Hasanuddin Lukman El-Hakim Zindan menandai Anda dalam catatan "Lagi dan Lagi [The Foolest Boy]".”. kubaca, ternyata temanku melontarkan wacana dalam tulisannya, tentang “budaya kebodohan yang ada dalam pribadinya” mungkin itu yang bisa ku tangkap dalam tulisannya, karena memang tulisan berbau metafor agak sulit untuk ditafsirkan satu sisi.

Dan tertarik untuk beropini tentang karya temanku yang satu itu, maka terpikir untuk membuat satu catatan untuk menyikapi wacana yang sebelumnya dilontarkan. Tentang Kebodohan, ya kebodohan.

Apa itu bodoh? 
Bodoh adalah kata negatif yang digunakan atas sesuatu yang semena-mena , takabur, result dari sebuah aksi yang menggampangkan sebuah konteks. Bodoh itu bukan khilaf. Khilaf dilakukan secara tidak sengaja, dan bodoh itu sengaja. Namun kalau sesuatu yang terlihat bodoh itu ternyata tidak sengaja atau menjadi nasib hidup , maka saya akan menyebutnya 'tertinggal', 'terbelakang' atau “memiliki sebuah standard yang dibawah rata-rata", (tapi bukan bodoh) , ini sebuah pengertian yang objective tanpa penekanan negatif.

Dan ingat, pada ahli banyak mengatakan jika hakikatnya manusia memiliki segala potensi yang mampu menjadikannya seorang khalifah dimuka bumi. Pertanyaannya, apakah Tuhan tega atau dimana logika Tuhan untuk menjadikan makhluk yang bodoh sebagai pemimpin di bumi?

Kazuo Murakami, Ph. D, ahli genetika terkemuka didunia asal Jepang, dalam bukunya “The Divine Message Of The DNA” menyatakan, manusia hanya mampu mengaktifasi potensi 5% dari 100% yang ada dalam tubuhnya. Jika Einstain dijuluki manusia terpintar pada abad 20, atau dikisahkan bagaimana Shahabat Umar Bin Khatab mampu melihat dengan jarak pandang 80 Kilometer, maka itu dikatakan hanya beberapa persen potensi yang mampu untuk diaktifasi oleh seorang manusia. Dan anda bayangkan jika aktifasi itu mampu ditingkatkan seorang manusia.

Maka apalagi alasan kita untuk menghakimi orang lain, atau mungkin menghakimi diri pribadi “BODOH” ? lalu mengapa jika itu terjadi, masih ada kata “BODOH”?

Bodoh adalah sesuatu yang dilakukan karena pembodohan. Begitulah kira-kira jika saya boleh berpendapat. Ya, bodoh itu akibat. Dari sebuah sebab yang disebut dengan aktifitas “pembodohan”. Sehari-hari kita mencerna sebuah acara televisi yang hakikatnya tak mampu membuat kita jadi pribadi yang lebih tangguh, itu pembodohan. Bahkan, sistem pendidikan yang hanya menjadikan seorang manusia jadi pekerja modern tanpa mengindahkan sisi-sisi sosial sebagaimana prinsip intelektual itu sendiri, itu juga pembodohan. Dan masih banyak kasus yang lainnya.

Jadi intinya, bodoh hanyalah sebuah sugesti yang diterima dari sebuah aktifitas pembodohan yang kita lakukan, atau mungkin menerpa kita. Bahkan mungkin, kata bodoh yang kita keluarkan mampu ditafsirkan sebuah rasa ke-tidak-bersyukur-an kita akan anugerah yang Tuhan berikan dalam wujud potensi-potensi yang ada dalam diri kita. Maka, yang menentukan kita jadi pintar atau “kurang pintar” adalah sejauh mana kita mampu memanfaatkan dan memaksimalkan segala potensi yang ada dalam diri kita.


Read More...

Jumat, 23 Desember 2011

Membincang Budaya Apresiasi; Dibalik Tombol Jempol



Kita lebih mudah menilai dan mengukum dari pada memuji dan mengagumi. Namun menilai serta mengadili orang lain sering menghantar orang kepada ketidak-puasan. Jadilah pencipta damai dengan cara memuji dan mengagumi keberadaan orang lain.
-Tarsis Sigho -


Era Informasi dewasa ini ditandai dengan munculnya website-website dinamis yang sering kali kita sebut Social Networking. Sebelumnya kita telah mengenal Yahoo Messenger, Frienster, Twitter, hingga yang paling fenomenal Facebook. Hari ini siapa yang tak kenal Facebook. Jejaring sosial besutan Mark Zuckenberg ini seakan menjadi gaya hidup baru. Bukan hanya dikalangan anak muda, namun setiap kalangan dengan berbagai profesi dan jenis karakter manusia hampir semua mempunyai akun jejaring sosial yang satu ini.

Bagi user jejaring sosial Facebook, tentu saja mereka akan mengenal sebuah tool yang bernama “LIKE”. “Like” atau “suka” adalah tombol dengan nilai fungsi apresiasi terhadap sebuah konten yang dibagikan dijejaring sosial facebook. Dan jika mentelaah dan mengalih wacanakan hal tersebut, betapa anehnya –jika dibandingkan dengan realitas- kita lebih rajin untuk mengapresiasi objek diluar kita pada dunia maya ketimbang di dunia realitas. Apresiasi karya yang dilakukan dengan melakukan pengamatan, kemudian melakukan penilaian, dan selanjutnya memberikan penghargaan terhadap koenten yang dibagikan oleh orang lain di dunia maya.

Tombol “like” facebook memang sering kali kita anggap sebagai sebuah hal yang biasa. Variasi setiap individu dalam memberikan “like” memang beragam, bisa dikarenakan konten tertentu berasal dari orang yang sangat dekat (faktor kedekatan),  karena konten itu benar-benar saya sukai (subjektif), karena yang punya konten sering menekan tombol LIKE untuk konten yang kita sebar di Facebook (faktor primordialisme), atau mungkin memang hanya iseng. Namun yang pasti, LIKE merupakan simbol bagi setiap user saling memperhatikan dan mengapresiasi setiap karya.

Ini budaya yang ‘sehat’. Karena hari ini, sudah menjadi rahasia umum bahwa kita (Bangsa Indonesia) sangatlah miskin dengan budaya tersebut. Budaya yang begitu murah dan bermanfaat. Kita bisa melihat di media bagaimana orang-orang beraktifitas saling mengecilkan satu sama lain, bukan sebaliknya. Atau kita bisa melakukan penelitian pada diri kita sendiri, berapa kali dalam sehari kita memuji orang lain, dan bandingkan dalam hal mengkritik atau menjatuhkan orang lain.

Dale Carnegie, penulis, pengajar dan seorang pelatih/motivator asal Amerika Serikat dalam bukunya, “Bagaimana Mencari Kawan dan Mempengaruhi Orang Lain” mengatakan, “seorang bodoh hanya mampu mengkritik, dan hampir seluruh orang bodoh melakukan itu”. Maka bukanlah sebuah hal yang sulit untuk selalu mengapresiasi setiap karya orang lain sebagai bentuk melestarikan budaya saling membesarkan. Dan kita bisa bayangkan bagaimana efektifnya ini jika kita lakukan dalam media sosial seperti halnya facebook.

Read More...

Sabtu, 17 Desember 2011

Mengapa Kita Perlu Belajar Ilmu Komunikasi II


Bagian Kedua
Oleh : Rizky Sopiyandi

Setelah sebelumnya penulis membahas suatu paradigma yang kurang tepat dalam mengkomunikasikan pesan untuk mempengaruhi pihak lain –dalam hal ini komunikan- kali ini dengan topik yang sama, saya coba membahas sedikit hal yang terkait dengan alasan besar mengapa kita perlu mempelajari ilmu komunikasi. Dengan suatu harapan ini bisa menjadi stimulus dan membuka ruang-ruang diskursus bagi setiap mahasiswa atau bahkan anda yang bukan mahasiswa namun tertarik menggeluti kajian komunikasi.

Seperti yang saya tuliskan sebelumnya (bagian pertama), sudah menjadi hakikat bahwa kita harus berkomunikasi, atau bahkan indikasi suatu kehidupan bagi manusia adalah adanya proses interaksi sosio-individual yang dilakukan dengan metode berkomunikasi. Bagaimana tidak, dalam diam atau dalam keadaan sendiri pun pada hakikatnya anda sedang berkomunikasi, bentuk komunikasi yang sering kita sebut dengan komunikasi interpersonal. Maka berhentinya suatu proses komunikasi dalam pandangan saya adalah ketika tidak adanya kehidupan dalam diri kita (mati), terlepas dengan adanya proses komunikasi yang bersifat transendental atau ghaib pasca hidup seorang manusia didunia.

Kembali kepada pokok pembahasan mengapa kita perlu mengkaji disiplin ilmu yang satu ini. Sahabat pembaca yang budiman, pernahkah sahabat mendengar kata “Mokusatsu”. Kalaulah sahabat pernah mendengarnya secara otomatis ingatan sahabat akan terpusat kepada tragedi dijatuhkannya Bom Atom di Hiroshima, Jepang. 

kata Mokusatsu adalah kata yang digunakan Jepang dalam merespon ultimatum Amerika Serikat  untuk menyerah, yang kemudian diterjemahkan oleh Domei (pihak AS) sebagai ‘mengabaikan’, alih-alih maknanya yang benar adalah ‘jangan memberi komentar sampai keputusan diambil’. Bahkan terdapat versi lain yang mengatakan, Jendral McArthur memerintahkan stafnya untuk mencari makna kata itu. Semua kamus bahasa Jepang-Inggris diperiksa yang memberi padanan kata no comment. MacArthur kemudian melaporkan kepada Presiden Truman yang memutuskan untuk menjatuhkan bom atom. Padahal, makna yang benar dari kata Mokusatsu adalah ‘Kami akan mentaati ultimatum Tuan tanpa komentar’. 

Kekeliruan dalam menerjemahkan suatu pesan yang dikirimkan pemerintah Jepang menjelang akhir Perang Dunia II boleh jadi telah memicu pengeboman Hiroshima. Kegagalan memahami pesan verbal itu dapat mengakibatkan bencana yang menjadi sejarah kelam umat manusia pada hari ini sering kita kenang. 

Kekeliruan tersebut bisa kita analisa bersama yang tak lain adalah adanya kesan menghiraukan konteks komunikasi, dan itu bisa menjadi suatu pelajaran bagi kita meskipun dalam setiap saat  dimana pun kita berada dan dalam kondisi apapun kita berkomunikasi tapi pada hakikatnya itu tidak menjadikan suatu bekal yang cukup bagi kita untuk menjadi insan komunikasi yang handal.

Oren Harari menuliskan dalam bukunya yang berjudul The Leadership Secrets,  Banyak orang hebat mengalami kegagalan disebabkan oleh kegagalannya dalam berkomunikasi yang baik. Atau bahkan sebaliknya, banyak orang yang kurang ahli dibidangnya namun ia beruntung dalam kesuksesannya dikarenakan memiliki gaya berkomunikasi yang baik”. Maka, meskipun komunikasi sudah menjadi suatu kegiatan dalam keseharian kita, bukan berarti menutup kemungkinan adanya suatu kesalahan dalam berkomunikasi. Baik itu kesalahan yang dalam hal menyampaikan pesan, maupun kesalahan dalam menafsirkan suatu pesan. Dan itulah sahabat, yang menjadi salah satu alasan bagi kita mengapa harus mempelajari ilmu komunikasi.
Read More...

Mengapa Kita Perlu Belajar Ilmu Komunikasi


Bagian Pertama

Oleh : Rizky Sopiyandi

Satu suara yang mengubah pola pikir teman atau bahkan lawan anda. Suara yang senantiasa memberi jalan, bukan hambatan. Suara yang menyederhanakan segala yang rumit untuk lebih ringan ditafsirkan. Suara yang selalu memberi keterusterangan, meski pahit didengarkan. Suara seorang pemimpin, dan andalah pemimpin itu.
Tak jarang permasalahan terjadi akibat kita salah mengkomunikasikan pesan kepada komunikan. Kadang hal ini terlupakan, padahal, manusia di dalam kehidupannya harus berkomunikasi, artinya memerlukan orang lain dan membutuhkan kelompok atau masyarakat untuk saling berinteraksi.

Dalam berkomunikasi sering kali kita menjumpai banyak perbedaan. Perbedaan gaya berkomunikasi seringkali menjadi suatu permasalahan. Perdebadaan tersebut seringkali memicu fenomena etnosentrisme. Sehingga tak heran seringkali konflik diantara suku dibangsa ini disebabkan adanya salah menginterpretasikan perkataan ataupun maksud dari ucapan seseorang atau kelompok tertentu.

Maka kita bisa mengambil suatu contoh.  Para pawang kuda seringkali melakukan proses penjinakan kuda secara tradisional (breaking a horse), yakni dengan membutuhkan beberapa orang yang melakukan kekerasan kepada hewan tersebut, sehingga menimbulkan suatu perasaan ketakutan yang teramat, dan si kuda pun bisa ditunggangi karena perasaan tersebut. Tapi, tak jarang setelah beberapa lama kuda tersebut tak bisa dikendalikan lagi, bahkan mungkin mencelakai si penunggang kuda tersebut. Berbeda dengan cara yang dilakukan oleh Monty Robert, seorang pencinta hewan ini menjinakan kuda dengan cara yang tak lazim. 

Gagasannya adalah dengan mengetahui cara berpikir kuda.  Robert melakukannya dengan berkomunikasi dengan hewan berkaki empat itu secara komunikasi non verbal. Robert  memandang mata kuda tersebut dan sesekali mengusap-usap ekornya. Hanya membutuhkan beberapa menit, si kuda pun bisa ‘tunduk’ kepada Robert.

Dari kasus tersebut, bisa menjadi contoh sederhana bagi kita, bagaimana komunikasi berperan penting dalam mempengaruhi sesuatu. Tak selalu diperlukan teriakan untuk lebih didengar, dan tak selalu diperlukan pertunjukan kekuatan untuk menunjukan derajat yang lebih tinggi. Karena terkadang dengan berbisik atau dengan kelembutan akan terasa lantang dari teriakan atau kekuatan fisik ketika kita meng-komunikasi-kan dengan benar.

Read More...

Tuhan dalam Cinta

“Kita Berjalan Diatas Jalur Cinta, dan Di Ujung Jalan Kita Akan Bertemu Kembali..”
- Suri (Shahrukh Kahn) dalam film ‘Rab Ne Banaa Dijodi’-

Sebuah ungkapan sederhana namun syarat dengan makna yang diucap Suri (Shahrukh Kahn) disebuah Film yang mengisahkan tentang perjuangan cinta Surinder Sahni "Suri" (Shahrukh Kahn) untuk mendapatkan cinta Taani (Anushka Sharma) gadis yang terpaksa dinikahinya, karena permintaan terakhir dari ayah Taani sebelum meninggal. Meski Taani tidak ingin jatuh cinta lagi setelah calon suaminya meninggal dalam kecelakaan, namun Suri terus berusaha mendapat perhatiannya.

Sepanjang cerita dalam film tersebut
penonton akan disuguhkan tentang makna filosofis cinta sesame manusia, dan tentang apa itu cinta. Sehingga mungkin terkadang penonton akan dibuatnya terhanyut dengan setiap adegan maupun dialog-dialog yang penuh dengan romantisme linguistik. Cerita yang tidak monoton, karena selain mengisahkan cerita cinta, juga diiringi dengan candaan, kesedihan dan kegembiraan.

banyak memang pelajaran tentang cinta. Cinta yang menjadi basis materi kehidupan. Cinta itu indah, karena ia bekerja dalam ruang kehidupan yang luas. Yang inti pekerjaanya adalah memberi. Memberi apa saja yang diperlukan oleh orang-orang yang dicintai sehingga tumbuh menjadi kebahagiaan. Give again and again. Setiap satu rencana terealisasi, setiap itu pula satu bibit cinta muncul bersemi. Hakikat Cinta adalah Memberi, setidaknya itu yang bisa kita ambil dari cerita film tersebut.
Cinta adalah cerita tentang seni menghidupkan hidup. Ia menciptakan kehidupan bagi orang-orang hidup. Karena kehidupan yang dibangun oleh pemberi cinta, seringkali tidak disadari oleh orang yang menikmatinya. Atau bahkan lebih buruk lagi, ketika fitrah manusiawinya menuntut cinta sebagai sebuah logika. Menuntut cinta menjadi sebuah ekspresi yang mampu diatur secara otonom, tanpa adanya campur tangan Sang Maha Cinta.

luas memang, bahkan bersifat universal ketika kita membicarakan topik yang satu ini. Namun satu yang pasti, dan yang perlu kita sadari tak sedikit pun kita mampu mengatur dengan tegas apa yang terjadi dengan hati setiap penikmat cinta. Akan selalu ada intervensi dari Tuhan dalam setiap perjalanan hati seorang manusia, karena hanya Dia lah yang sanggup membolak-balikan hati setiap makhluknya, tak sedikit pun kuasa kita untuk mengaturnya.


Nilai Ke-Tuhan-an dalam Cinta

“Aku Melihat Tuhan dalam Dirimu...” Ucap Suri, saat menyatakan alasannya mencintai Taani.

Dialog yang begitu menyentuh hati setiap penonton. Bagaimana tidak, muatan teologis yang disandingkan dengan adengan romantis 2 anak manusia yang sedang dianugerahi cinta, dan dengan bijaksananya mereka menggantungkan segala rasa dan ekspresi cinta mereka dengan menganalogikan rasa tersebut kepada hal-hal transenden.

Sudah seharusnya memang, dalam kitab Al-Mahabah, cinta kepada Allah adalah puncak dari segala tujuan (al-ghoyatul ghoyah) seluruh maqom spritual. Proses penyatuan diri dari seorang makhluk dengan Sang Khalik tak bisa dipisahkan dengan adanya ekspresi cinta dan mencintai.
Cinta dalam hal ini seakan menjadi jembatan penghubung antara ridha Allah kepada manusia. Hablum minannas, dalam pandangan penulis tak lain merupakan dasar dari sistem kerja cinta dan mencintai. Dan Hablu Minallah adalah puncak dari itu semua. Dijelaskan dalam sebuah hadits, “Tidaklah seseorang diantara kalian dikatakan beriman, hingga dia mencintai sesuatu bagi saudaranya sebagaimana dia mencintai sesuatu bagi dirinya sendiri.”. atau "mencintaimu, harus menjelma aku" ucap seorang teman, yang diadopsi dari sebuah ungkapan dari Sapardi Djoko Damono, dalam Sajak Kecil Tentang Cinta.

Alkisah sufi besar Abu Ben Azim terbangun di tengah malam. Kamarnya terang benderang oleh cahaya, dan ditengah cahaya itu ada sosok makhluk (yg ternyata malaikat) dengan sebuah buku ditangan. Sedang apa Anda ?” Tanya Abu Ben pada malaikat tersebut. ”Saya sedang mencatat daftar pecinta Allah “ jawab malaikat.  Adakah nama saya tercantum disana wahai malaikat ? tanya Abu Ben harap-harap cemas.  Malaikat menyodorkan buku yang dipegangnya, Abu Ben melihatnya dan tak lama kemudian dia kecewa, tidak ada namaku disini. Namun dia segera bercermin, ”yah, mungkin aku memang terlalu kotor untuk menjadi pecinta Allah, kalau demikian, biarlah sejak malam ini aku menjadi pecinta manusia saja.
Beberapa malam kemudian, ia terbangun lagi di tengah malam. Kamarnya kembali terang benderang, malaikat yang bercahaya itu hadir kembali. Namun Abu Ben terkejut karena kini namanya tercantum di rating teratas daftar pecinta Allah Wahai malaikat, bukankah aku bukan pecinta Allah ? aku hanyalah pecinta manusia. Kata malaikat, ”baru saja Allah berkata bahwa engkau tidak akan pernah bisa mencintai Allah hingga engkau mencintai sesama manusia”. Ups ! rupanya Abu Ben kemudian memproyeksikan cinta dan rindunya kepada Allah dengan berbagi kasih kepada kaum fakir miskin, dia dekati dan belai anak yatim, dia curahkan cinta itu kepada mereka. Dan memang dalam sebuah hadist Qudsi Allah berfirman, ”Aku tidak menjadikan Ibrahim sebagai khalil (kekasih)Ku melainkan karena ia memberi makan fakir miskin dan sholat ketika orang-orang tertidur lelap.

alhasil, sebuah kesimpulan dari analisis pesan terhadap film yang satu ini adalah bagaimana kita mencintai dengan tulus kepada allah yang diabstraksikan dan di refleksikan kepada produk mahakarya Tuhan itu sendiri, yakni manusia. Mencintai manusia dengan tuntunanNya, mencintai manusia karenaNya.



Read More...