"Aku adalah Pena, yang hanya berfungsi ketika ku berkarya"

Sabtu, 17 Desember 2011

Tentang Sebuah Pesan


Kali ini, bahkan dibanyak kesempatan kulihat ia berbicara tentang kebenaran. Orasi-orasi meninggi, narasi-narasi raksasa tentang asal usul realitas nampak tak pantas. Bahkan ketika segala sesuatu tercipta waktu, kulihat ia menjejakkan kakinya dalam bekasnya tapak lumpur sejarahku.

Sayangnya, ditengah perjalanan, kulihat ia kehilangan jejak dan menjadi orang asing didalam dirinya sendiri. Kulihat ia telah berubah menjadi pengelana yang melangkah di antara perjalanan keluhkesah dan selalu gagal membaca arah. Ia tertahan dalam jati diri seorang peninggi, itu bukan dia. Meski manuver mulai menggeliat dari kepompong-kepompong revolusi yang sudah berdiri lama diujung senja.

Ini bukan kritik amal, atas dasar niat yang bersifat kedalam sama sekali bukan urusan kita. Kali ini, wacanaku sama sekali emoh bicara tentang makna. Yang ada hanyalah membongkar pelbagai konstruksi makna yang dirajut secara politis. Membuat makna yang tadinya begitu stabil menjadi guncang dan akhirnya ambruk.

Dan terakhir kudengar kabar maut bagi para penggandrung realitas; Realitas sudah mati!

0 komentar:

Posting Komentar